April 17, 2016

Asing

Tulisan ini ku tulis saat
Engkau memanggil kami untuk melaksanakan kewajiban kami di bumi ini
Batin ini begertak luar biasa
Namun keterasingan ini pun
Masih sama
Mewacana

Dear Allah, istiqomah kan saya.
Amin

April 11, 2016

Cerita dalam abstraksi kata edisi pesantren

Ada tangis yang mengawal perjuangan
Ada waktu yang tertukar oleh ilmu
Ada kebersamaan yang terganti harap mandiri

Sang orang tua berteriak
"Kebiasaan, cuekin aja!"
Ketika melihat anaknya menangis
Saat jam temu wali dan santri selesai.
Kejadian yang menurut sang orang tua terlalu sering terjadi.

Brak!
Mobil ditutup keras dan melaju cepat meninggalkan si anak

Miris.
Karena nyatanya jarak yang menjauh dan waktu yang berkurang dengan anaknya
Tak mampu membuatnya paham
Bahwa tangis anaknya
Bukan karena malas, untuk kembali menuntut ilmu.
Bukan karena malas, untuk berjuang.
Melainkan sebuah tangis menuntut kebersamaan.

Mobil terus melaju.
Seolah menghempas memori dan melelapkan ibu dari aktivitas nya.
Lelap.

Jauh ditempat yang ditinggalkannya,
Mungkin mata si anak terus memerah, mengembang, dan berkaca.
Menahan tangis dan rindu yang tak berkesudahan.
Serta merajut harap prestasi yang mungkin
Mampu mengantarkan perasaan sang ibu untuk sampai pada rasanya.

Teruntuk adik ku najla yg sedang berjuang menuntut ilmu di pesantren.
Jaga air mata mu ya dek.
Kami sayang kamu dan rindu kamu juga

April 07, 2016

tapi, aku siapa?

Aku tak pernah meminta terlibat
pertama kali mendengar konfirmasi tentang apa yang aku fikirkan ttg kalian dr kalian sendiri
adalah pukulan yang berat untuk ku

kau tau kenapa, kawan?
ini bukan kali pertama untuk ku
tapi kenapa lagi lagi aku

Sang Maha Agung, mempercayai ini sebagai tugas ku
tugas seorang kawan, sahabat, dan saudara
untuk mengingatkan
untuk mengarahkan
atau bahkan mengiringi perjuangan kalian


tapi aku siapa?
aku cuma manusia biasa
ada deru haru yang luar biasa setiap kali mendengar kalian bercerita
batin ku seolah paham dan mengerti bagaimana batin kalian berteriak
pikiran dan logika ku seolah berkonsolidasi yakin
yakin punya jalan keluar
yakin bisa menyelesaikan tugas ku

padahal, aku siapa?
aku seolah menuhankan diriku,
merasa pantas jadi bagian dari cerita perjuangan kalian
aku seolah meninggikan derajatku
hanya karena merasa pernah mengalami luka itu
aku seolah berlari kanan dan kiri mengajari
seolah berbagi adalah kepiawaian ku

padahal dari setiap raut yang coba ku jajaki
air mata kalian terus mengebiri
dan sukma ku terus teririsi oleh setiap pedih yang diwarisi

teman, hari ini ku putuskan untuk tak lagi di tengah
biarkan aku menjadi air
yang setiap kali kau mengarus bersama ku
kita akan menuju muaraNya

muara yang kusebut ilmu
muara yang kusebut amal
dan kubiarkan semua cerita kalian ada di muara ku
di muara hati dan pikiran ku

untuk kalian,
kututup tulisan ini dengan doa dalam syukur ku
syukur karena doa ku terdengar oleh-Nya
agar kalian kembali ke jalan-Nya

dan maaf jika hantaran doa ku
terjawab oleh-Nya dalam bentuk pedih
yang amat melukai hati kalian







April 05, 2016

Sekilas Percakapan sahabat

Me :
Yoo... Gue pengen peluk lo saat ini
Gue mau nangis
Makasih banyak ya
Udah jadi sahabat yg menguatkan gue
Gue terlalu rapuh sebenarnya. Dan terlalu pengecut memperlihatkan  kerapuhan gue yg sebenarnya
Cuma cerita sama lo sejauh ini gue bs ceritain apa yg ada dlm pikiran gue, yg cukup sering hati gue debatin.

Sahabat
Iya, sama sama ya fen..
Gue cuma berusaha bicara sama sisi fenty yg kuat, selebihnya dia yg akan menangani semuanya..

Me
Itu cuma bentuk penguatan buat gue aja apa lo memang melihat gue punya sisi kuat itu yo?

Sahabat
Pintu itu ada, dan fenty yg kuat ada di sana..
Pintu itu cuma bisa dibuka dari dalam, lagipula gue ga punya kuncinya..
Dan gue liat kunci itu ada di genggaman lu, jadi pergilah, dan buka pintu itu...

Me
Sepenuh jiwa raga, sesungguhnya saat ini gue sedang bertahan dipintu itu agar tak tertutup dan terkunci. Menahan dan menariknya  agar tak tertutup.
Kuncinya ditangan gue.
Tp tangan gue sibuk mengumpulkan asupan untuk membangun pertahanan dan energi yg lebih kuat agar pintu itu benar-benar terbuka luas

Sahabat
Kalo begitu, mungkin lu butuh utk diam sejenak, renungi semua tenaga, waktu, dan pikiran yg udah lu keluarin dgn sia2..
Tunggu dulu! ternyata kunci itu ada banyak! Sial, jangan2 lu udah pake kunci yg salah...maka duduklah..
Lihat kunci2 itu, telusuri kunci mana yg tepat, walaupun memang, karena kita nggak bisa liat bentuk lubang kunci itu, kunci mana pun jadi perlu utk dicoba...
Tapi tunggu dulu! kalo lu ngerasa bukan kunci masalahnya, maka..duduklah
Duduk di depan pintu itu, dan ayolah, ajak dia bicara, dan lu yg paling tau apa yg harus lu bicarakan dengannya..
Sampai lu ngerasa kalian sudah bersahabat, maka ketuklah, siapa tau?
Pintunya akan dibuka dari dalam olehnya..

Me
Aku lelah mengetuk yo. Aku lelah berbicara pelan hingga berteriak keras.
Aku lelah bertahan.
Aku lelah mengatur strategi untuk masuk.
Kaki, otak, tubuh, tangan, dan pikiran ku hampir lumpuh.
Hanya untuk bertahan.
Apakah ini pertanda aku harus menghilang.
Dan membiarkannya menutup

Sahabat
Mungkin..
Setiap pribadi butuh jeda..
Maka, tinggalkanlah pintu itu sesaat..

Dan pergilah, datangilah pintu yg lain..
Pintu yg di sana, pintuNya, pintu yg lebih besar..
Lucunya, kita ga butuh kunci, bahkan kita ga perlu mengetuk, siapa yg berada di depan pintuNya, akan dipersilahkan masuk, dijamu, bahkan dipersilahkan meminta..
Oh betapa beruntungnya kita..

Me
Aku akan mencobanya.
Semoga saya termasuk tamu yg ditungguNya
Yang diharap olehNya bertemu langsung denganNya.
Segera.

Apakah aku pembohong ulung?

Apakah aku pembohong ulung?
Yang selalu berkata baik baik saja
Padahal batin ku teriak merana

Apakah aku pembohong ulung?
Yang selalu berkata aku bahagia
Padahal tak kuasa tahan nyata

Apakah aku pembohong ulung?
Yang selalu tertawa bersama
Padahal  seringkali tak mampu menepis tangis

Apakah aku pembohong ulung?
Yang selalu menyebar ceria
Padahal lagi lagi meringis

Kau bukan pembohong ulung!

Kau sang juara penepis rana
Kau sang juara penepis tangis
Kau sang juara penangkis ringis
Dalam setiap rintih baris isak tangis wacana pedih

Juara tersenyum lah
Lagi
Untuk
Kami
Dan
Untuk mu sendiri


Menyelami ceritanya..

Tuhan.
Membaca tulisan nya aku tak pernah berani.
Sudah. Aku sudah berulang kali mencobanya
Beberapa kali juga aku ketakutan.
Meskipun sangat ingin ku selami ceritanya.
Sama seperti Melihat tatapan matanya saat menjabarkan ceritanya.
aku gemetar.
Aku takut bukan main.

Aku takut ia bersedih.
Aku sakit melihatnya bersedih.

Tak mampu kau tutup kah lukanya , Tuhan.
Hari ini ia masih temanku.
Meskipun aku takut mendengarkan ataupun membaca ceritanya.
Ia cukup mampu membuatku bertahan.
Untuk memahami.
Untuk belajar.
Cerita dari hidupnya.
Cerita dari pilunya.

Untuk tau.
Bahwa aku, Bukan siapa-siapa.
Dan untuk tau.
Bagaimana hati, berhati hati

Hai Dear, aku sudah baca tulisan mu.
Bangga ku teriris pedih.

April 03, 2016

Cerita Dalam Benak edisi 01

Cerita Dalam Benak
Mengutip tanya
Menjejal cerita
------------
Sama darah
Tapi tak paham gerak
Tapi tak paham memata
Tapi sungkan merasa

Buaaaarrrrr...

Mual jejal otak ku
Tak sanggup ku tahan tawa dalam terinjak
Mabuk dalam percaya
Ada dalam tiada
Dan banding dalam waktu

Tak cukup jejal otak ku
Untuk paham bahwa kami benar dan mereka salah
Ku rasa tak cukup sembilu ku meradang
Untuk hari ini mampu paham
Terus melihat pada arah mereka
Ataukah
Seluruh sembilu perlu meradang hingga mampu paham?

Semoga nanti giliran waktu ku
Tak ada teriak duka dalam tawa
Atau sisipan cibir dalam era

Semoga

Agar semua merdeka dari mati rasa
Dan luka

In the middle of their story version
Bogor - Jakarta

Wanita adalah pejuang paling luar biasa

Hari ini aku menyaksikan
Bagaimana seorang wanita bertahan dengan adanya wanita lainnya dlm kehidupan rumah tangganya
Saat ini mereka menyebutnya dengan bangga
Poligami
Mengikuti Rasullullah

Aku tak pernah paham bagaimana kondisi istri2 Rasul saat itu ketika di poligami.
Islam mengijin kan

Aku tau itu

Tapi rasanya, terlalu berat untuk seorang wanita yg di poligami
Beragam pertahanan ia coba lapisi, untuk terus menahan air matanya.

Aku melihatnya. Terlalu nyata diraut wajahnya.
Terlihat, bagaimana..
Lapisan baja dalam hatinya, untuk memperlihatkan keikhlasan hatinya
Keruk air mata haru yg mungkin terus ia lakukan dlm setiap hajatan sujudnya
Juga jutaan tarikan hikmah dalam setiap perbandingan yang dihadapinya.
Untuk terus ia warisi hal hal baiknya kepada anak cicitnya
Hingga anak-anaknya tetap menyayangi imam keluarganya tanpa cela sedikit pun
Agar amalan yang tak terputus mampu merajut doa dan mengantarkan dirinya ke surga - Nya

Teruntuk setiap wanita yg bertahan di balutan kedua
Teruntuk setiap wanita yg bertahan atas nama nafsu yg berbalut agama

Juga untuk imam yg selalu berusaha adil

"Wanita adalah pejuang paling luar biasa"