Oktober 18, 2016

Kami (di)paksa mati

Tiba tiba mataku berkaca-kaca
Ketika menunggu busway di bundaran senayan
Semua orang berjubel disatu pintu
Tujuan kami berbeda
Tapi aku tau
Harapan kami semua sama
Segera dapat kursi di dalam benda bergerak nan nyaman yg mengantarkan kami pada tatap mata keluarga dirumah

Miris
Hari ini kami dipaksa mati
Mati oleh budaya
Kami dipaksa tak bersabar
Karena jika bersabar
Gerak kami melambat
Maka jatuh, terdesak atau bahkan mati bisa saja terjadi saat rebutan terjadi

Kami seolah dipaksa untuk segera mendesak yg ada didepan kami
Diam berarti terseret mati
Tak sampai disitu
Didalam benda transportasi itu
Kami pun terpaksa mati
Mati rasa, ketika ada tetua yg lebih membutuhkan sandaran kursi
Kami terpaksa pura pura terlelap
Agar seluruh tulang rusuk yg jd sandaran hidup hari ini beristirahat sejenak dari padatnya gerak
Sehingga senyum mampu sedikit terlihat sampai tetiba dihadapan keluarga

Oh jakarta
Kamu terlalu padat oleh berjuta harap yang dengan cekat terus merayap pada sekat sekat kerja keras
Hingga mungkin
Doa memendam sulit tersemat
Dalam setiap langkah
Yang kadang tak sudi untuk berhenti sejenak

Penkpenk
Jakarta, 18/10/16 - 17.26
Dari atas roda bergerak
After work